Sabtu, 29 November 2008

Rabu, 10 September 2008

About Madu

[milis-nova] About Madu {01}
Ana Agustina
Tue, 26 Apr 2005 06:15:01 -0700

Madu yang baik biasanya bila termasuk kategori madu asli yang
berkualitas dan akan semakin baik bila mengandung banyak faktor
antioksidan di dalamnya. Saya pribadi ndak bisa menyarankan untuk
membeli merk tertentu, namun semoga beberapa informasi di bawah
ini dapat membantu dalam memutuskan satu produk madu yang
akan di beli.

Madu asli biasanya merupakan eksudat gula atau sari bunga yang
dikumpulkan, diubah, dan diikat dengan senyawa-senyawa tertentu
oleh lebah, tertutama Apis mellifera. Kualitas madunya sendiri
ditentukan oleh kualitas tanah tempat sumber nektar tumbuh,
sumber nektar, cuaca, derajat pemasakan, dan cara ekstraksi.

Madu asli ini sendiri dibedakan atas: Madu floral (madu
monofloral: dihasilkan dari satu jenis tanaman, dan madu
polyfloral; dihasilkan dari beberapa tanaman); Madu embun
(dihasilkan dari cairan hasil sekresi serangga tertentu yang
meletakkan eksudat gulanya pada tanaman, kemudian dikumpulkan
oleh lebah madu dan disimpan dalam sarang madu); dan Royal jelly
(sari madu), yakni madu yang dihasilkan (sebenarnya) khusus untuk
ratu lebah. Kadar gizi tertinggi terutama kandungan hormon
gonadotropin-nya. Harganya sedikit agak mahal. Karenanya kita
perlu mewaspadai barang tiruan jenis madu ini yang banyak
beredar. Dari cara menjualnya, madu asli dibedakan menjadi madu
cair (dijual setelah diekstrak dari sarangnya) dan madu sisir
(dijual masih utuh tertutup dalam sisirannya atau sarangnya).

Sayangnya di indonesia belum ada lembaga resmi yang indipendent
untuk menguji kualitas produk madu yang beredar di pasaran,
karenanya sulit untuk menentukan jenis produk yang mana yang
memiliki kualitas prima.

2.Terus tau asli ato gaknya dari mana yah ?

Ada beberapa cara untuk mengetahui keaslian madu (paling tidak
sejauh yang saya tahu yaa).

Pertama: ujian keaslian dapat dilakukan dengan cara mengocok madu
dalam botol pengemasnya. Madu asli biasanya setelah mengalami
proses pengocokan akan mengeluarkan buih, sedangkan madu palsu
tidak. Karenanya saat madu asli dalam botol, ia akan menekan
tutup botol sehingga ketika tutup botol dibuka, maka akan
terdengar suara letupan kecil.

Kedua: uji keaslian dapat juga dilakukan dengan cara meneteskan
madu pada selembar kertas. Madu yang berkategori palsu biasanya
akan lebih mudah diserap oleh kertas karena kadar air yang
dikandungnya lebih tinggi dibanding madu asli. Selain itu
intensitas rasa manis madu palsu akan terasa lebih "lengket" di
lidah. Sebaliknya pada madu asli, selain rasa manis akan
ditemukan pula rasa asam mengingat madu asli memiliki tingkat
keasaman (pH) sekitar 3,4 - 6,1.

Ketiga: penggunaan alat polarimeter dapat pula digunakan untuk
mengetahui keaslian madu. Madu asli secara optis akan memutar ke
kiri, sedangkan madu palsu akan memutar ke kanan.

3. Kalo bisa ada yang sharing ...ada ibu/bapak yang pernah pake
madu untuk anaknya ? dan gimana khasiatnya ?

Beberapa manfaat madu sejauh ini yang saya ketahui adalah:

1. Meningkatkan nafsu makan dan menurunkan tingkat morbiditas
(kesakitan)

Dari hasil penelitian Y Widiodo (2001), peneliti di Pusat
Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor ditemukan hasil bahwa
pemberian madu secara teratur setip harinya dapat menurunkan
tingkat morbiditas (panas dan pilek) sekaligus memperbaiki nafsu
makan pada balita.

Penelitian ini dilakukan pada balita pasien Klinik Gizi,
Puslitbang Gizi, yang menderita kurang energi protein (KEP)
akibat krisis moneter. Sample penelitianya sendiri terdiri dari
51 balita usia 13 - 36 bulan. Mereka dibagi menjadi dua kelompok,
pertama Kelompok Madu (25 orang) sebagai sampel, dan kedua
Kelompok Syrup (26 orang) sebagai kontrol. Kedua kelompok
sama-sama diberi tambahan vitamin B-kompleks dan vitamin C (50
mg).

Variabel yang diamati antara lain data antropometri (umur, bobot
badan, tinggi/panjang badan), sosial-ekonomi, recall konsumsi,
riwayat kesehatan anak pada saat sebelum, selama, dan sesudah
perlakuan sekitar dua bulan.

Hasil penelitian tsb menghasilkan data bahwa tingkat morbiditas
terhadap panas dan pilek kelompok madu atau sampel menurun, nafsu
makan meningkat, porsi dan frekuensi makan bertambah, sehingga
konsumsi energi dan protein mereka juga meningkat dibandingkan
dengan kelompok kontrol yang mendapat syrup.

Manfaat kesehatan pemberian madu yang terlihat dalam penelitian
tersebut antara lain disebabkan oleh dua hal. Pertama, madu
merupakan makanan yang mengandung aneka zat gizi sedangkan gula
hanya mengandung energi/ kalori. Kedua, madu ternyata juga
mengandung senyawa yang bersifat antibiotik.

2. Mengandung faktor pertumbuhan

Kandungan gizi utama madu yang terdiri dari senyawa karbohidrat
seperti gula fruktosa (41,0%), glukosa (35%), sukrosa (1,9%), dan
dekstrin (1,5%) akan menambah intake energi yang diperlukan oleh
balita.

Kadar protein dalam madu sendiri relatif kecil, sekitar 2,6%.
Tapi kandungan asam aminonya cukup beragam, baik asam amino non
esensial maupun esensial. Asam amino inilah yang turut pula
memberikan sebagian keperluan protein pada tubuh balita.

Jenis Vitamin yang terdapat dalam madu juga beraneka ragam
Beberapa vitamin yang tercatat ditemukan dalam madu antara lain
vitamin B1, vitamin B2, B3, B6, dan vitamin C. Demikian halnya
kandungan mineralnya yang terdiri dari kalium, natrium, kalsium,
magnesium, besi, tembaga, fosfor, dan sulfur. Walaupun jumlahnya
relatif sedikit, namun mineral dari madu merupakan sumber ideal
bagi tubuh manusia karena imbangan dan jumlah mineral madu
mendekati kuantitas yang terdapat dalam darah manusia.

Madu juga mengandung zat antibiotik yang merupakan salah satu
keunikan madu. Dari penelitian Peter C. Molan (1992), peneliti di
Departement of Biological Sciences, University of Waikoto,
Hamilton, New Zealand dibuktikan bahwa madu mengandung zat
antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab
penyakit. Beberapa penyakit infeksi yang dapat "disembuhkan" dan
dihambat dengan mengkonsumsi madu secara teratur adalah batuk dan
demam , penyakit jantung, hati, paru, penyakit penyakit yang
dapat mengganggu fungsi mata, syaraf dan telinga plus infeksi
saluran pernafasan akut (ISPA).

Dari hasil penelitian Kamaruddin (1997), peneliti di Departement
of Biochemistry, Faculty of Medicine, Universiti of Malaya, di
Kualalumpur, ditemukan paling tidak terdapat empat faktor yang
bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri pada madu, yaitu
kadar gula madu yang tinggi, senyawa radikal hidrogen peroksida,
tingkat keasaman madu yang tinggi, dan senyawa organik yang
bersifat antibakteri.

Kadar gula yang tinggi akan menghambat pertumbuhan bakteri
sehingga bakteri tak dapat hidup dan berkembang biak. Dengan
adanya senyawa radikal hidrogen peroksida maka dapat membunuh
mikroorganisme yang sifatnya patogen. Melalui tingkat keasaman
madu yang tinggi maka akan otomatis mengurangi pertumbuhan dan
daya hidup bakteri. Plus kandungan senyawa organik yang sifatnya
antibakteri. Sejauh ini, kandungan senyawa organik yang telah
diidentifikasi adalah polyphenol, flavonoid dan glikosida.

Untuk mendapatkan manfaat madu pada kesehatan tubuh secara
optimal hendaknya diperhatikan dosis penggunaannya dan
keteraturan pengkonsumsiannya. Dari beberapa rujukan, banyak
dianjurkan untuk memberikan 2-3 sdm 2 kali sehari untuk tindakan
penjagaan stamina dan kesehatan pada balita (Kalau dari
penelitian pak widodo diberikan dosis 20 gr perhari pada sampel
balita tsb). . Sedangkan untuk pengobatan, lebih baik madunya
dilarutkan dalam air agar lebih mudah di serap oleh tubuh.

Ada pula beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam
mengkonsumsi madu:

1. Madu yang berwarna lebih hitam biasanya lebih sehat di banding
yang warnanya lebih muda. Peneiliti di University of Illnois
menemukan bahwa kadar antioksidan dalam madu biasanya terkait
dengan warna yang madunya miliki. Semakin gelap warna madu, maka
semakin banyak kadar antioksidan yang ada. Seperti yang moms
ketahui, radikal bebas yang ada di tubuh dapat merusak sistem
informasi di sel sehingga dalam kasus ekstremnya dapat menimbukan
penyakit kanker dll (ini bagiannya bu dokter nih :)). Namun tetap
lho kita tidak mengandalkan efek antioksidan madu untuk
kesehatan karena bagaimanapun madu bukan pengganti makanan yang
sehat yang seharusnya di konsumsi.

2. Pengkonsumsian madu tidap dapat digunakan untuk menggantikan
konsumsi buah buahan dan sayur sayuran. Karena komposisi zat yang
ada di madu hanya sebagian kecil memenuhi kebutuhan zat gizi
manusia dalam sehari.

3. Madu sebaiknya tidak dikonsumsi pada anak usia di bawah 1
tahun. Robert Koch Institut Berlin dan Oesterreichische
Gesellschaft für Ernährung menyarankan agar bayi (0-12 bl) tidak
diberikan madu dalam makanan yang dikonsumsinya. Alasan yang
mereka kemukakan adalah kemungkinan munculnya penyakit
Saeuglingsbotulismus (waduh ndak tau nih istilah kedokteran yang
benar :D) yang timbul melalui kerja dari Bakteri Clostridium
botulinum. Penyakit di atas biasanya jarang terdiagnosa, namun
dapat menimbulkan kematian pada bayi. Penyakit ini biasanya
ditemukan hanya di usia pertama kehidupan sang anak, terutama
memiliki efek yang fatal khususnya di usia 6 bulan pertama.
"Hanya" di masa satu tahun pertama ini bakteri tersebut memiliki
kemungkinan menimbulkan penyakit Saeuglingsbotulismus dengan
proses "pengalih kekuasaan" di organ organ pencernaan kemudian
menghasilkan/membentuk gift (Botulinustoxin) di tempat tersebut.
Pada anak yang lebih tua dan dewasa kasus ini tak akan muncul,
kemungkinana karena di usia tersebut sudah terbentuk Darmflora
yang lebih stabil. Namun peringatan ini tidak berlaku pada
makanan jadi yang terkandung madu di dalamnya, karena proses
pemanasan biasanya telah mematikan si bakteri penyebab penyakit.

Wah panjang banget yaa..namun semoga bermanfaat.

Salaam,

Senin, 08 September 2008

MENGUJI MADU ASLI / BUKAN

Cara menguji madu asli atau bukanPosted by Aries Purwantoro in July 30th, 2007 Published in RagamMinggu sore di TransTV di acara reportase melaporkan penipuan madu. Disebutkan dari total kebutuhan konsumen 30.000 ton per tahun, baru 8.000 ton per tahun yang dapat disupply oleh produsen madu asli. Selebihnya 22.000 ton per tahun disupply oleh madu imitasi atau palsu.

Madu palsu terbuat dari gula biang, pemanis, pengental dan berbagai bahan lainnya. Bagi konsumen yang mengkonsumi madu palsu bukan bertambah sehat tapi menjadi sakit dan kemungkinan kencing manis.

Sebenarnya potensi untuk mengembangkan produksi madu di Indonesia cukup tinggi karena banyaknya perkebunan di Indonesia yang dikelola oleh perhutani sehingga dapat menghasilkan madu dengan aneka macam rasa seperti kopi, pisang, strawberry maupun rasa yang lainnya. Rasa ini ada karena lebah menkonsumsi sari dari pepohonan di perkebunan dimana lebah itu ditangkarkan.

Cara menguji apakah madu itu asli atau tidak adalah sebagai berikut :

Sediakan air mineral dalam dua gelas, tuangkan madu baik yang palsu maupun asli.

Jika palsu maka air akan keruh karena sebenarnya yang palsu adalah sejenis sirup sedangkan
jika asli maka air akan tetap bening dan madu akan menggumpal karena madu yang asli mempunyai kadar air yang rendah

Madu dan gizi balita

Balita Anda susah makan? Sebelum menderita kurang gizi, beri dia madu setiap hari. Dari penelitian terbukti, madu bisa menambah nafsu makan, menurunkan tingkat morbiditas terhadap panas dan pilek, di samping itu lengkap kandungan gizinya.

Memberi makan anak-anak usia di bawah lima tahun (balita) memang gampang-gampang susah. Kalau si anak punya nafsu makan tinggi, orang tua tidak bakal repot. Diberi makan apa saja balita itu akan menyantapnya dengan lahap. Sebaliknya, anak balita yang bernafsu makan rendah atau susah makan, membuat orang tua sering kewalahan, bahkan hampir kehilangan akal untuk membujuknya makan.

Berbagai jenis makanan dicobakan. Reaksi si anak cuma membuang kembali makanan di mulutnya bila tidak sesuai kesukaannya. Celakanya, makanan kesukaannya justru kurang bergizi. Padahal, variasi makanan sangat perlu. Kalau keadaan ini berlanjut bisa-bisa si anak menderita kurang makan dan kurang gizi, sehingga mudah sakit. Akibat semua itu proses tumbuh kembangnya menjadi tidak normal. Yang paling merisaukan, bila ia menjadi bagian dari generasi tanpa masa depan (lost generation).

Meningkatkan nafsu makan

Untunglah ada hasil penelitian Y. Widodo. Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi di Bogor ini, tahun lalu membawa kabar gembira bagi para orang tua yang memiliki anak kurang energi protein (KEP). Ia melaporkan bahwa pemberian madu secara teratur setiap hari dapat menurunkan tingkat morbiditas (panas dan pilek) dan memperbaiki nafsu makan anak balita.

Penelitian dilakukan terhadap balita pasien Klinik Gizi, Puslitbang Gizi, yang menderita kurang energi protein (KEP) akibat krismon. Ada 51 balita usia 13 - 36 bulan yang terlibat dalam penelitian. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, pertama Kelompok Madu (25 orang) sebagai sampel, dan kedua Kelompok Sirop (26 orang) sebagai kontrol. Kedua kelompok sama-sama diberi tambahan vitamin B-kompleks dan vitamin C (50 mg).

Indikator yang diamati antara lain data antropometri (umur, bobot badan, tinggi/panjang badan), sosial-ekonomi, recall konsumsi, riwayat kesehatan anak pada saat sebelum, selama, dan sesudah perlakuan sekitar dua bulan.

Hasil penelitian menunjukkan, tingkat morbiditas terhadap panas dan pilek kelompok madu atau sampel menurun, nafsu makan meningkat, porsi dan frekuensi makan bertambah, sehingga konsumsi energi dan protein mereka juga meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapat sirop.

Manfaat kesehatan pemberian madu yang tampak dalam penelitian tersebut antara lain disebabkan oleh dua hal. Pertama, madu merupakan makanan yang mengandung aneka zat gizi sedangkan gula hanya mengandung energi atau kalori. Kedua, madu ternyata juga mengandung senyawa yang bersifat antibiotik.

Mengandung faktor pertumbuhan

Kandungan gizi utama madu adalah aneka senyawa karbohidrat seperti gula fruktosa (41,0%), glukosa (35%), sukrosa (1,9%), dan dekstrin (1,5%). Karbohidrat madu ikut menambah pasokan sebagian energi yang diperlukan balita.

Kadar protein dalam madu relatif kecil, sekitar 2,6%. Namun kandungan asam aminonya cukup beragam, baik asam amino esensial maupun non-esensial. Asam amino tersebut turut pula memasok sebagian keperluan protein tubuh balita.

Vitamin yang terdapat dalam madu antara lain vitamin B1, vitamin B2, B3, B6, dan vitamin C. Sementara mineral yang terkandung dalam madu antara lain kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, tembaga, fosfor, dan sulfur. Meskipun jumlahnya relatif sedikit, mineral madu merupakan sumber ideal bagi tubuh manusia karena imbangan dan jumlah mineral madu mendekati yang terdapat dalam darah manusia.

Penelitian menunjukkan, madu juga mengandung faktor pertumbuhan. Dilaporkan, stek batang pohon yang dicelupkan dalam madu akan lebih cepat berakar dan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan stek yang ditanam tanpa perlakuan madu.

Madu juga mengandung zat antibiotik. Kandungan ini merupakan salah satu keunikan madu. Penelitian Peter C. Molan (1992), peneliti dari Departement of Biological Sciences, University of Waikoto, di Hamilton, Selandia Baru membuktikan, madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab penyakit.

Beberapa penyakit infeksi berbagai patogen yang dapat “disembuhkan” dan dihambat dengan (minum) madu secara teratur antara lain penyakit lambung dan saluran pencernaan; penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk dan demam; penyakit jantung, hati, dan paru; penyakit-penyakit yang dapat mengganggu mata, telinga, dan syaraf.

Berdasarkan hasil penelitian Kamaruddin (1997), peneliti dari Departement of Biochemistry, Faculty of Medicine, Universiti of Malaya, di Kualalumpur, paling tidak ada empat faktor yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri pada madu. Pertama, kadar gula madu yang tinggi akan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut tidak dapat hidup dan berkembang.

Kedua, tingkat keasaman madu yang tinggi (pH 3.65) akan mengurangi pertumbuhan dan daya hidupnya sehingga bakteri tersebut merana atau mati. Ketiga, adanya senyawa radikal hidrogen peroksida yang bersifat dapat membunuh mikroorganisme patogen. Dan faktor keempat, adanya senyawa organik yang bersifat antibakteri. Senyawa organik tersebut tipenya bermacam-macam. Yang telah teridentifikasi antara lain seperti polyphenol, flavonoid, dan glikosida.

Takaran minum madu

Untuk mendapatkan manfaat kesehatan dari madu, cairan manis yang menjadi cadangan makanan koloni lebah ini harus dikonsumsi secara teratur. Dalam penelitian Widodo tersebut balita sampel diberi madu sebanyak 20 gram setiap hari. Madu tersebut tidak dianjurkan untuk bayi usia 0 - 4 bulan, karena makanan pertama dan yang utama untuk mereka adalah air susu ibunya (ASI). Setelah usia 4 bulan baru boleh diberi madu seiring dengan pemberian makanan tambahan sesuai anjuran.

Menurut Muhilal, 2-3 sendok makan madu 2 X sehari sudah cukup memadai untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh. Namun untuk penyembuhan atau pengobatan, madu lebih baik dikonsumsi dalam bentuk larutan dalam air karena akan memudahkan penyerapannya di dalam tubuh. Madu tersebut sebaiknya dikonsumsi dua jam sebelum makan atau tiga jam sesudah makan.

Selain menambahkan madu pada menu makanan balita secara teratur, tentu saja berbagai upaya kesehatan lainnya seperti pengobatan medis, pemberian makanan tambahan, dan imunisasi umum, harus pula dilakukan. Upaya tersebut akan lebih mempercepat upaya pemulihan kesehatan dan perbaikan gizi balita, terutama yang susah makan, sehingga mereka terhidar kemungkinan menjadi generasi tanpa masa depan.

Apiterapi, Sengat dan Madu Lebah

Rabu, 18 Juni 2008 13:54:07 Klik: 1447

Disebutkan dalam Alquran surat An Nahl ayat 68-69, di dalam madu lebah terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Produk turunan yang dihasilkan lebah ada 13 buah, di antaranya madu, propolis, royal jelly, pollen, bee venom, lilin lebah, madu sarang, roti lebah, larva lebah, dan phedra.

Kata aphitherapy (apiterapi) adalah perpaduan bahasa Latin, aphis berarti lebah dan therapy, pengobatan. Apiterapi didefinisikan sebagai upaya pengobatan komplementer untuk tujuan prefentif, kuratif, dan rehabilitasi menggunakan lebah dan produk turunannya.

Ribuan Tahun
Penggunaan madu lebah untuk kesehatan, kata Dr. Adji Suranto, Sp.A, dari Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT) DKI Jakarta, telah diketahui sejak ribuan tahun lalu. Lukisan karang zaman batu (6000 SM) memperlihatkan kegiatan honey hunting.

Bukti tertua penggunaan madu untuk mengobati infeksi kulit dan luka, borok, penyakit mata dan telinga, tertulis dalam keramik bangsa Samaria (2000 SM). The Ebers Papyrus (1550 SM) mencatat resep-resep madu untuk pemakaian luar, yaitu untuk terapi kebotakan, luka bakar, abses, dan pereda nyeri.

Madu juga dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka usai pembedahan, termasuk sunat, supositoria, mengurangi peradangan, serta meredakan kaku sendi. Hingga tahun 1990, katun yang direndam dalam jus lemon dan madu masih digunakan sebagai alat kontrasepsi.

Penggunaan sengat lebah untuk terapi nyeri sendi dan artritis telah lama dilakukan oleh bangsa Yunani. Pelopornya adalah bapak kedokteran modern, Hippocrates.
Tahun 1888, Dr. Philip Tere dari Perancis meneliti hubungan antara sengat lebah dan rematik. Sebelumnya, tahun 1864, Prof. Libowsky melaporkan kesembuhan pasiennya yang menderita rematik dan neuralgia setelah diterapi dengan sengatan lebah.

Pengobatan menggunakan sengat (bisa) lebah dikenal sebagai apipuntur. Apipuntur, kata Dr. Adji, adalah bagian dari apiterapi. Apipuntur memanfaatkan bee venom dan metode akupuntur. Lebah untuk terapi ini jenis Apis mellifera dan Apis cerana. Apipuntur sendiri merupakan bagian dari apiterapi.

Sengat atau racun lebah sangat baik untuk menormalkan segala aktivitas pembuluh darah dan saraf. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengat lebah mengandung melitin, apamin, peptida 401 (MDC), inhibitor protease, dan norepinephrine,” kata dokter yang mendalami pengobatan komplementer sejak tahun 1999 ini.

Apiterapi secara umum dimanfaatkan untuk meredakan gangguan rematik, masuk angin, flu, salah urat, hingga penyakit berat, seperti darah tinggi, diabetes, dan kanker. Cara ini pun diklaim efektif untuk mengobati penyakit degeneratif, seperti stroke.

Kombinasi
Dalam praktik apipuntur, dituturkan Dr. Adji, sengat lebah yang dimasukkan ke dalam tubuh dilakukan dengan dua cara, yakni langsung (direct bee sting) dan lewat suntikan berisi racun lebah. “Racun lebah diambil dari antibodi murni seseorang yang sudah sering disengat lebah,” katanya.

Jumlah sengatan tergantung pada jenis penyakit. Namun, satu sengatan di titik-titik tertentu dianggap cukup sebagai perkenalan. “Dalam terapi berikutnya, titik-titik tersebut disengat lagi, tetapi tidak boleh lebih dari 10 sengatan,” ujar pria satu anak ini.

Sengatan lebah yang sedang bereaksi di tubuh ditandai dengan ketidaknormalan sejenak yang sifatnya individual. Reaksi pasien berbeda-beda, apakah sebelumnya pernah disengat lebah atau tidak.

Biasanya pasien akan mengalami reaksi lokal dan sistemik. Ciri reaksi lokal adalah pembengkakan di sekitar lokasi sengatan, gejala klinisnya gatal, nyeri, dan kaku. Reaksi sistemik berupa demam, lemas, telinga berdengung, dan pusing.

Menurut Dr. Adji, bila reaksi itu terjadi pada pasien yang sensitif, diganti dengan pemberian obat antihistamin selama 10 hari. Selanjutnya baru boleh dilakukan apiterapi lagi. Kondisi di atas, kata dokter lulusan FKUI 1988 ini, adalah alamiah karena racun lebah sedang bereaksi di dalam tubuh. Seperti saat kita diimunisasi.

Untuk menetralkan kondisi tersebut, ia menganjurkan konsumsi madu dan mengoleskan minyak gosok di bagian yang bengkak dan gatal. Karena itu, terapi sengat lebah akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan pemberian madu, propolis, pollen, atau royal jelly.

Meski dikombinasi, tidak semua jenis penyakit bisa disembuhkan dengan terapi yang sama. Contohnya, untuk kencing manis, terapi tambahan yang digunakan adalah pollen dan propolis. Untuk gangguan katarak, selain sengat lebah, terapinya berupa tetes mata madu trigona dan madu lebah.

Untuk gangguan rematik, ada dua titik yang disengat, yakni titik lokal di mana yang sakit dan titik sistemik, yaitu titik akupuntur zusanli (daerah bercekung di bawah lutut). Selain sengatan di titik itu ditambah konsumsi royal jelly, propolis, dan citosan.
Terapi apipuntur dilakukan dalam 12 kali pertemuan.

“Biasanya pada kunjungan pertama titik yang disengat hanya satu. Hari berikutnya ditambah satu titik sengatan lagi. Begitu seterusnya. Lamanya sengatan antara 10-15 menit. Setelah itu bisa diulang lagi,” katanya.

Pemanfaatan apipuntur, tambah Dr. Adji, ditentukan oleh jenis penyakit, umur pasien, dan kontraindikasinya. Wanita hamil, bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia dianjurkan tidak menjalani terapi ini.
Mau coba? @ Hendra Priantono

Madu Masker Wajah Alami

04/08/2008 00:18
Madu Masker Wajah Alami
Tiara Anisa, Kontributor INILAH.COM


(cooldesak.com)
INILAH.COM, Jakarta - Ketika Anda menghabiskan waktu di luar ruangan, Anda tidak sadar hal apa saja yang mungkin menyerang kulit cantik Anda. Matahari, keringat, angin bisa membuat kulit iritasi, berminyak, dan kering. Kesimpulannya: 'berantakan'.


Tetapi jangan khawatir. Anda bisa memberikan pertolongan pertama, seperti saran Linda Collins dari Salon of Blue, yaitu asam laktat dalam yogurt bisa melembutkan dan menyejukkan kulit Anda, sedangkan madu bisa membersihkan dan melembabkan kulit.


Tepatnya bahan-bahan yang Anda butuhkan adalah satu cup yogurt, dua setengah sendok makan madu tanpa rasa, satu sendok makan perasan air jeruk (untuk kulit berminyak), kapas, dan air hangat.


Kemudian mulailah dengan mencampur yogurt dan madu dalam sebuah mangkuk. Khusus untuk kulit berminyak, tambahkan satu sendok teh perasan air jeruk, yang berfungsi menyerap minyak yang berlebih.

Sebelum menggunakan campuran ini, Anda bisa mencobanya dengan mengoleskan campuran pada bagian belakang telinga. Tunggulah satu jam untuk melihat apakah terjadi iritasi atau tidak. Jika tidak iritasi, mulailah oleskan masker pada wajah dan leher yang sudah dibersihkan sebelumnya.


Diamkan selama lima menit. Setelah lima menit, bersihkan masker dengan air hangat kemudian keringkan. Kemudian lanjutkan dengan menggunakan pelembab yang biasa Anda gunakan, ulangi selama dua kali dalam sepekan. [L1]

Tags : madu, masker wajah

Madu Cegah Amputasi Pasien Diabetes

Mengoleskan madu pada bagian kaki yang luka, merupakan alternatif untuk menghindari terjadinya amputasi pada pasien diabetes. Hal tersebut dibuktikan oleh seorang dokter dari Universitas Wisconsin, AS, yang berhasil membantu pasien-pasiennya menghindari amputasi. Kini ia berencana menyebarkan terapi madu tersebut.

Menurut Profesor Jennifer Eddy dari University School of Medicine and Public Health, madu bisa membunuh bakteri karena sifat asamnya, selain itu madu juga efektif menghindari sifat kebal bakteri akibat penggunaan antibiotik. “Ini adalah hal yang penting dalam dunia kesehatan,” katanya. Dalam terapi madu ini, bagian yang luka baru bisa diolesi setelah kulit mati dibersihkan.

Pasien diabetes memang seharusnya sejak dini memerhatikan secara serius bagian kaki, terutama untuk mencegah terjadinya luka yang berlanjut dengan infeksi. Memberi perhatian serius pada kaki dengan melakukan kontrol yang baik terhadap penyakit diabetes yang diidap disebabkan timbulnya gangguan pada kaki penderita diabetes.

Gangguan itu berupa kerusakan pada saraf dan kerusakan pembuluh darah dan infeksi yang membuat penderita diabetes mengalami mati rasa (baal) pada kakinya. Karena itu, biasanya penderita diabetes tidak menyadari terjadinya luka pada kaki karena tak langsung tampak.

Terapi madu telah digunakan sebagai pengobatan alternatif di Eropa, bahkan di Selandia Baru terapi ini dipakai untuk mengobati sulit tidur. Profesor Eddy mulai tertarik untuk mencoba terapi madu setelah mengetahui tradisi penggunaan madu dalam dunia pengobatan masa lampau.

Ia mulai melakukan uji coba sejak enam tahun lalu. “Saya mulai mencoba terapi ini setelah segala pengobatan gagal. Sejak kami memakai madu, penggunaan semua jenis antibiotik kami hentikan dan berhasil,” katanya. Sampai saat ini penelitian tersebut masih berlanjut dan diharapkan selesai pada tahun 2008 atau 2009.

Publikasi di: Kompas.com
Sumber: AFP
Penulis: An